Kayun Surabaya Tempo Dulu

Diposting oleh Nafi Abdul Hakim on 16 Juni 2013

Woooo,  lamanya gak nulis. Tapi kali ini saya akan membagikan info daerah bersejarah di Surabaya yang tak kalah menariknya. Happy reading :)

Kayun adalah nama sebuah area yang perumahan elite Surabaya kurang lebih tahun 1920-1940. Menjadi batas timur sebuah kompleks perumahan elit berbentuk segitiga Embong-wijk. Istimewanya perumahan di sepanjang jalan Kayon ini menghadap ke Timur dan waterfront! Mungkin merupakan kawasan paling diminati orang Belanda.

Kata Kayun / Kayon / Kajoon sendiri berasal dari kosa kata literatur Bahasa Jawa. Yang paling sering muncul adalah dalam pagelaran wayang kulit. Setiap intermezo adegan, sebuah gunungan (yang terekam di balik koin 100 Rupiah Rumah Gadang tahun 1978) menjadi semacam pembabakan.

Kayun Surabaya Tempo Dulu

Kamus Jawa-Inggris karya Elinor Clark Horne (1974) menulis arti Kajun/Kayun sebagai sebuah harapan, cita-cita, keinginan. Kata intinya ajun (kosa kata sastra)yang sinonim dengan arep (versi sehari-harinya). Juga berarti hidup (alive) atau kehidupan atau lebih luas lagi bisa bermakna realita (kehidupan). Contoh pemakaian berikut menunjukan betapa sulitnya menangkap kedalaman kosa kata Jawa untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia "sowan ngayunaning Pangeran" = "khusuk berdoa menghadap Tuhan", padahal makna doa disini bukan hanya berdoa saja namun ada makna realta kehidupan, menjalani hidup dan menghargai hidup seperti orang Bali menghargai dan mengistimewakan kematian.

Kata ajun / ayun juga menjadi kata yang diperkenalkan ke anak-anak ketika masih sangat kecil. Berupa mainan ayunan yang begitu menyenangkan semua anak-anak. Dalam seni pewayangan sendiri sebuah buku berjudul "Beyond Translation" karya A.L. Becker (1975), kata Kayun mendapat pemaknaan sebagai berikut :
"Konsep waktu dalam pewayangan tidak memiliki batasan, tapi yang jelas tidak satu timeline. Kejadian atau koinsiden tidak berwaktu. Pagelaran wayang itu sendiri secara simbolis satu hari. Fenomena aneh ini perlu di sebutkan disini. Pembabakan adegan ditandai dengan sebuah wayang besar stiliran sebuah pohon atau gunung yang disebut Kayon atau gunungan. Selama pertunjukan yang biasanya diadakan di malam hari, kayon menandai perjalanan waktu imajiner sang surya dari timur ke barat yang diciptakan oleh efek pencahayaan dan bayang-bayangnya (biasanya sengaja setting pertunjukan melintang ke timur- barat, atau jika tidak memungkinkan utara-selatan dengan utara sebagai pengganti timurnya).

Kayon merupakan jam dramatik yang hanya menandai runutan atau kronologi plot dalam cerita bukan urutan waktu seperti di jam tangan penontonya". Hal 42-43.

Melihat pemaknaan kata Kayun dan penamaan ruas jalan Kayun serasa menemukan kecocokan yang sepertinya bukan kebetulan. Siapapun yang menamakan jalan itu kayun mungkin memiliki wawasan sastra Jawa yang mendalam. Sebuah area yang diimpikan semua orang kaya di Surabaya dengan pemandangan sungai yang asri, jauh dari keramaian Kota Lama (Jembatan Merah dan sekitarnya) namun tidak terlalu jauh dengan Tunjungan, dan area Simpang sendiri sedang menjadi pusat atraksi baru kota Surabaya pada waktu itu
Sebuah istilah lain yang perlu diketahui semua penduduk Surabaya adalah istilah "Puter Kayon", Hein Buitenweg dalam bukunya "Krokodillenstad" - Kota Buaya (1980) yang berisi foto-foto Surabaya berikut nostalgia di setiap fotonya merekam aktifitas puter kayun yang banyak dilakukan orang-orang muda Belanda di Surabaya ketika sore tiba. Menyewa kereta atau mobil melintasi putaran Embong-wijk mulai dari Kaliasin (apotek simpang) , sampai di patung karapan sapi berbalik ke Panglima Sudirman, belok ke kanan Hotel Brantas dan balik kiri menyusuri jalan Kayun menuju jalan Simpang (jalan Pemuda) kembali ke starting point. Aktifitas menikmati sejuknya hawa di sore hari setelah panasnya siang hari merupakan relaksasi yang begitu dinikmati mereka.

Saat inipun jika kita ingin menikmati sejuknya udara di jantung kota Surabaya, jangan masuk ke Mall ber AC karena dinginnya kering, masuklah ke pasar bunga Kayun dan nikmati atmosfer yang berbeda diantara bunga-bunga yang dijual pedagang bunga. Mungkin satu hal inilah yang tersisa dari keistimewaan Kayun dalam sejarah kota Surabaya.

Sumber :
Foto koleksi pribadi sumbangan Mr Case van der Linden di STD. Kayun Sonokembang tahun 1954. BI

Thank's to:
Cak Min http://www.facebook.com/pages/Jancuk-Suroboyo/233905410076465

{ 6 comments... read them below or add one }

BlogS Of Hariyanto mengatakan...

ternyata sejarah tempo dulu sangat mempengaruhi pembangunan kota surabaya saat ini...nice share sobat :-)

BAMBANG Supriadi mengatakan...

Seakarang Jalan Kayun menjadi Pasar Bunga. Stren kali Mas masih belum dimanfaatkan oleh warga Pedagang.
Komentar ini dari Paguyuban Pedagang Pasar Bunga Kayoon, www.sekarsariflorist.com

khandha19 mengatakan...

menarik gan postingannya,,tambahan ilmu baru,,

Harga Mobil Bekas mengatakan...

Semoga suatu saat saya bisa berkunjung ke Surabaya dan bisa melihat secara langsung..
btw.. thanks atas artikelnya..

Mengatasi Septictank Penuh Dengan Starbio plus mengatakan...

isi nya sangat menrik untuk di simak
terimakasih gan

Shauqtm Rahman mengatakan...

Betul mas haryo. Makanya saya pribadi suka dengan membaca sejarah.. Salam kenal

Toko Bunga Surabaya

Posting Komentar

Kesan, Saran, dan Kritik Anda adalah bagian dari perubahan diri saya menjadi yang lebih baik. Terima kasih

Cara memberi komentar :
1. Pilih pada bagian "Beri Komentar Sebagai"
2. Pilih Anonymous -- untuk Anonim
3. Pilih "Name/URL" -- untuk memberi nama dan alamat web Anda

Terima Kasih @ininafi

Pengikut